Tampilkan postingan dengan label Olah Raga. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Olah Raga. Tampilkan semua postingan

10.22.2009

Never missplaced a pass for 2 years!!!

Nils Liedholm (8 October 1922 – 5 November 2007)[1] was a Swedish football midfielder and coach, famous for being part of Sweden's "Gre-No-Li" trio of strikers along with Gunnar Gren and Gunnar Nordahl at A.C. Milan and the Swedish national team. As a coach, he was in charge of several teams in Italy, managing for nearly four decades. At the end of the 20th century Liedholm was voted the best Swedish player of the millennium by the readers of Swedens largest newspaper Aftonbladet.

Liedholm joined his first club, IK Sleipner in 1942. In 1946, he joined IFK Norrköping, a bigger Swedish club with whom he won two Swedish league titles. During his time with Norrköping, he also earned 18 caps for the Swedish national team, winning the gold medal at the 1948 Summer Olympics. This eventually gave him the chance to join Milan in 1949. He made his Serie A debut on 11 September 1949 in a 3–1 win against Sampdoria. In his first season with Milan, the midfielder played 37 games and scored 18 goals. In 1951, Liedholm won the first of his four scudetto titles. Another three titles followed in 1955, 1957 and 1959. A player with a club that was having the best spell of its life up to that point, Liedholm also won the Latin Cup in 1951 and 1956 and was Captain of Milan in the 1958 European Cup Final against Real Madrid, losing 2–3 (after extra time). It is said that Real Madrid great Alfredo Di Stefano who, felt despite victory knew it was a match Milan could have won. Asking Liedholm to join him on a lap of victory, Liedholm said to him "Keep it. That wont matter. The only thing that will be remembered from this match down the years is that Real Madrid won".

Famous for his passing abilities, Liedholm was the creator of many of Gunnar Nordahl's goals. Nordahl still has the scoring record in Serie A with 225 goals in 257 games. According to legend, it took two years playing for Milan until Liedholm misplaced his first pass at the San Siro, the rarity prompting a five-minute ovation from the home crowd.

Liedholm was also one of the first players to realise the importance of fitness to a good performance. Consequently, he put in many more hours of training than other players, saying himself that he did the 100 metres, 3000 metres, javelin, shot put and high jump twice a week[3]. His club career would continue until he was almost 40.

Having helped Sweden win the gold medal in the 1948 Olympic tournament, Liedholm was the captain of the national squad at the 1958 World Cup, celebrated in his home country. Aged almost 36, he helped Sweden to reach the World Cup final, where the team lost out to a Brazil side that included Didi and 17-year old Pelé. Liedholm scored the opening goal of the final, which makes him the oldest player to score in a World Cup Final; however, Brazil came back and won the match 5–2.

After he retired from playing, Liedholm enjoyed some time in the backrooms at Milan, before getting promotion for both Verona and then Varese. This brought him to the attention of Fiorentina and then Milan, where he finally took control of the first team. He guided them to their tenth league title in 1979 before moving on to become the manager of Roma. Leading talents such as Paulo Roberto Falcão and Bruno Conti, he took them to their second league title ever in 1983 using the zonal marking system, which was unusual in Italy at the time. A year later, his Roma side lost on penalties to Liverpool in the European Cup Final. He also won the Coppa Italia three times with Roma, in 1981, 1983 and 1984.

As well as saying that the modern game is much more frantic and fast-paced than when he was involved, Liedholm, always a professional, also observed that "they [players] do not do much to avoid fouling players... It is too easy to stop a player by fouling him. Proper training teaches you how to win the ball without committing a foul, which is much more difficult.[3]

After leaving the game (but still living in Italy), Liedholm ran a vineyard for a while together with his son Carlo. He died on 5 November 2007 in his home in Cuccaro Monferrato, Province of Alessandria.

2.08.2008

Lama...

Lama nian gak isi blog neh... Ampir 2 bulan dah gak online... padahal, selama 2 bulan itu banyak banget kejadian unik bin menarik. Cuman yah, waktu jua yang gak ngijinin. Gak deng, bukan cuma waktu. ditambah males banget untuk online.

Ngomong-ngomong soal lama, aku seneng banget ama yang berbau 'lama'. Ada juga sih pengecualian type 'lama' yang menyebalkan. kalo misalkan janjian, terus kita nunggu kelamaan kan bikin jengkel... atau lagi ngantri di ATM lamaaaaaaa banget... atau...yah, banyak deh type 'lama' yang mbosenin dan bikin jengkel.

Tapi kalo kita punya koin 'lama' alias kuno... wedew... tajir dah. misalnya koin Amerika 1 sen yang gambarnya Abraham Lincoln taun 1909 sama taun 1943... wah, ribuan dollar Amerika dah pasti masuk ke rekening kita dah.

Lagu-lagu lama juga luar biasa terpatri di hati sanubari saya. Lagu Indonesia jaman dulu (tapi bukan eranya Lagu cengeng '80 an) bisa bikin semangat jiwa raga dah. bikin sembuh yang sakit. bikin semangat yang kerja. Emang sih, banyak juga yang melankolis-negatif. Tapi paling nggak, banyak banget alternatif pilihan tema lagu pada jaman dulu.

Kalo lagu Indonesia sekarang? selain lagu 'Bendera'nya Cokelat ama lagu-lagu dari Naif (dan beberapa band lainnya), rasanya ampir semua lagu mainstream grup band baru temanya gak jauh dari cinta dan saudara-saudarinya. Ya putus cinta lah, ya cinta tak berbalas lah, atau cinta-cinta lain yang gampang banget dihafalkan dan bikin hati trenyuh. Kalo udah denger lagu gini, otomatis biasanya oksigen lebih banyak masuk ke bagian otak kiri... Ujung-ujungnya? boro-boro mau mikir kreatif, ngelamun ama ngehayal deh adanya. Soalnya kalo denger lagu begini, otomatis otak kiri memposisikan kita sebagai 'seseorang' yang lagi ngalamin kisah lagu itu. Ih, ngeri dah...

Kalo dibidang olahraga,
Tim nasional sepak bola Indonesia 'lama' memiliki kebanggaan tersendiri. Mereka menjadi tim Asia pertama yang berpartisipasi di Piala Dunia FIFA
pada tahun 1938. Saat itu mereka masih membawa nama Hindia Belanda dan kalah 6-0 dari Hungaria, yang hingga kini menjadi satu-satunya pertandingan mereka di turnamen final Piala Dunia. Indonesia, meski merupakan negara besar dengan jumlah penduduk yang juga sangat besar, tidak termasuk jajaran tim-tim terkuat di AFC untuk saat ini.

Itu sepakbola yang lama, bisa bersaing dipentas dunia. Kalo sekarang? antiklimaks... tim-tim yang tadinya sejajar atau dibawah kita, sekarang melejit kualitasnya jauh diatas kita. Kenapa? karena atmosfer sepakbola di tanah air kita ini benar-benar negatif... Tim legislatif ekslusif PSSI aja gak jelas visi misinya, perwasitan yang 'katanya' cuman segelintir aja yang bener-bener wasit bertanggung jawab, bentrokan antar pemain, pelatih, manajemen, penonton.. malah ada yang sampai meninggal gara-gara bentrokan antar supporter... wedew.. mendingan nonton Newcastle aja deh di TV. Atau aksi kreatif Christiano Ronaldo yang membawa makna sepakbola menjadi olahraga yang bisa dinikmati generasi millenium saat ini.

Kayaknya, sepakbola luar negeri selalu menarik untuk disimak. Ada aja aksi kreatif yang muncul tiap beberapa tahun. Waktu era 80-90an ada Eric Cantona.. Juga Zinedine Zidane dan Ronaldo dengan kreatifitas tinggi mengolah bola. Nah, setelah 'umpan magic' Beckham, gaya 'umpan tanpa melihat' Ronaldinho, 'gocekan tanpa menyentuh bola' Ronaldo, dan 'sentuhan kaki kiri-kanan sambil berputar' Zinedine Zidane, saya mulai berpikir. Kayaknya udah semua gaya unik dan kreatif muncul deh. Ternyata tidak. Tiba-tiba Christiano Ronaldo muncul menjadikan sepakbola olahraga yang dinamis sepanjang masa. Gayanya komplit, ditambah gocekan pake tumit dan umpan dengan cara menendang bola dipantulkan ke kakinya sendiri, seolah-olah gak sengaja terpantul, tapi arahnya pas ke rekannya. Phew, sepakbola gak akan pernah membosankan diluar negeri sana....

Sepakbola Indonesia? Kayaknya gak ada bedanya liat video tahun 2000an, 90an, atau 80an. Gak maju kemana-mana. 'Papukeut' aja parebut bola sambil sesekali dorong-dorongan, atau memprotes wasit... Yah, gimana lagi ya? Gak tau dah. I love sepakbola Indonesia. Tiap ada siaran langsung Liga Indonesia, pasti saya nonton. Berharap ada fenomena kreatifitas baru yang akan bawa sepakbola Indonesia ke tingkat yang lebih baik. Tapi, harapan ini muncul sejak saya nonton sepakbola dari kecil, sekitar taun 80an. Hasilnya? boro-boro ada fenomena baru, teteup aja dorong-dorongan, bakar-bakaran, dll... I love you, Indonesian Football

11.12.2007

lebih seru yang orangnya gede...

Sore ini (9 November 2007) aku 'lenje-lenje' ngelurusin badan sambil nonton sepakbola melalui televisi bareng anakku. Azdy (nama anakku) emang sengaja gw kenalin ama berbagai macam olahraga sejak dini. Baik itu tennis, sepakbola, bulutangkis, golf, basket, renang, atletik...pokoknya apapun acara olahraga yang ada di televisi pasti kuajak dia nonton (Kecuali tinju dan semua olahraga yang ada unsur kekerasannya, secara dia baru tiga taun gitu, takut salah persepsi aja ntar..) Nah, susahnya... di Indonesia kerapkali tinju diperagakan pada pertandingan sepakbola.

Sore itu pertandingan liga Indonesia antara PSIM Jogjakarta melawan Persiter Ternate. Singkat cerita, pada menit ke 70, sang pengadil membuat suatu keputusan yang kontroversial. Seorang pemain belakang PSIM dianggap melakukan pelanggaran kepada penyerang Persiter. Wasit berniat memberikan tendangan penalti kepada Persiter. Nah, disini uniknya sepakbola Indonesia... beberapa pemain PSIM memprotes dengan cara mendorong wasit dengan penuh emosi... Bahkan mereka mogok melanjutkan pertandingan selama kurang lebih 10 menit. dan apa yang wasit lakukan? TIDAK ADA!!! beliau hanya terdiam di tengah lapangan sambil menyaksikan para pemain PSIM meninggalkan lapangan. Jangankan kartu merah atau teguran, mengambil inisiatif untuk berdiskusi dengan asisten pertandingan maupun inspektur pertandingan pun tidak. Waduh... pokoknya unik deh. Pertandinganpun dimulai pada menit ke 80an, dan berakhir pada menit ke 115. Itu waktu normal lho, bukan perpanjangan waktu!!! Phew...

Udah deh, pokoknya gitu, akhirnya kupindahin ke channel lain. Ada lagi sepakbola. kali ini liga belanda antara Ajax Amsterdam melawan Feyenoord. Kualitas? tentu aja beda jauh. Wasitnya sangat tegas, sehingga pertandingan tidak pernah berubah menjadi pertandingan tinju. Keras tidak menjadi Kasar. Aku sangat menikmati pertandingan itu.

Tapi... Anakku yang spontan pada menit ke 10 pertandingan, mengajakku main mobil-mobilan... begini katanya: " Bapak, kita main mobil-mobilan yu. Inimah nggak rame sepakbolanya. Orangnya besar-besar. Seruan yang tadi, orangnya kecil-kecil, terus istirahatnya lamaaa. Ada dorong-dorongnya lagi. Kalo yang orangnya gede-gede inimah kasian, lari terus.. yu pak, main mobil-mobilan aja..."